Tim pengabdian masyarakat PKM fakultas pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang tahun ini berhasil didanai telah melaksanakan kegiatan pelatihan hidroponik. Berlokasi di desa Pabelan, Mungkid, Magelang tim yang beranggotakan Ahmad Noval Farid, Afina Nadida, Tri Sulis Arianto dan Adisty Rizkasari ini berkerjasama dengan pihak Pondok Pesantren Pabelan untuk mendirikan sebuah komunitas pertanian yang bertema pertanian modern hidroponik. Pondok Pesantren Pabelan merupakan pondok pesantren berprestasi yaitu pernah mendapatkan penghargaan Kalpataru penyelamat alam, berlokasi di daerah yang strategis pada jarak 9 KM dari wisata budaya Candi Borobudur menjadikan pondok ini sangat ideal untuk dilaksanakan pelatihan.

Hidroponik sendiri merupakan budidaya menanam tanaman dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah. Hidroponik menggunakan air yang lebih efisien, jadi cocok diterapkan pada daerah yang memiliki pasokan air yang terbatas. Selain itu saat ini pondok pesantren Pabelan juga memiliki lahan pekarangan yang belum termanfaatkan sehingga instalasi hidroponik ini dapat menjadi solusi pertanian modern.

Penyuluhan yang berlangsung sejak pagi dan berakhir menjelang siang ini diikuti oleh kelas X dan XI MA Pondok Pabelan bertempatkan di depan Gedung Mirota Batik. Kegiatan yang lebih cocok diikuti oleh jurusan IPA ini, kali ini diikuti juga oleh santri jurusan IPS. Maka untuk memudahkan, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk memudahkan pelatihan. Santri yang bergabung dalam komunitas yang didirikan oleh mahasiswa pertanian UMY ini sangat antusias dengan keseluruhan program yang telah dirancang dan didiskusikan dengan pihak pimpinan pondok.

Para santri terlihat sangat antusias saat di ajarkan bagaimana cara budidaya sayuran tanpa menggunakan tanah sedikitpun. Hidroponik sendiri memiliki banyak metode, namun yang digunakan disini adalah metode NFT (Nutrient Film Technique) dan wick. Perbedaan 2 metode tersebut berada pada media tanamnya. Setelah acara penyuluhan berakhir, para santri dibagi benih dan media tanam wick untuk mereka praktekkan di asrama.

“Saya dan teman-teman sangat tertarik dan ingin mencoba untuk membuat pertanian tanpa menggunakan tanah ini. Kami akan merawat dan menjaga hidroponik yang telah dirakit dan diajarkan bersama-sama dengan kakak-kakak dari UMY.” Kata Ayu salah satu santriwati kelas X MA pondok pesantren Pabelan.

Acara berakhir, ditandai dengan penyerahan alat hidroponik yang menggunakan metode NFT kepada Ibu Nurul Faizah selaku Koordinator Pengasuhan Santri, dan diteruskan pada acara pelantikan santri-santri pengurus komunitas hidroponik kerjasama dengan mahasiswa pertanian yang akan bertanggung jawab merawat media tanam tersebut. Selanjutnya para santri diharapkan dapat mengembangkan ketrampilan ini sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kehidupan di masa yang akan datang.