Badan Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan informasi yang mencengangkan bagi Perguruan Tinggi di Indonesia, bahwa “sarjana di Indonesia paling banyak jadi pengangguran”. Dari 8,32 juta orang pengangguran di Indonesia atau 7.14% dari total angkatan kerja sampai bulan Agustus 2010, ternyata paling banyak didominasi para lulusan sarjana dan diploma. Badan Pusat Statistik menguraikan, jumlah lulusan sarjana dan diploma yang menganggur masing-masing berjumlah 11,92% dan 12,78%.

Data tersebut menjelaskan bahwa masih terjadi gap antara jumlah lulusan dan lapangan pekerjaan yang tersedia. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah salah satunya adalah dengan melakukan berbagai kerjasama ekonomi bilateral agar ada investor masuk dan membuka lapangan kerja di dalam negeri. Namun demikian, hal tersebut belum dapat menyelesaikan permasalahan pengangguran sepenuhnya. Disisi lain, solusi pengurangan pengangguran dengan menyediakan lapangan kerja hanya akan member solusi sementara, karena ketika terjadi permasalahan ekonomi atau politik yang menyebabkan investor lari keluar negeri maka pengangguran akan terjadi lagi.

Salah satu solusi yang baik adalah menjadikan lulusan perguruan tinggi, wirausaha muda yang mandiri. Dengan berbekal kemampuan intelektual, ketrampilan yang memadai baik penggunaan IT maupun proses produksi, serta adanya wawasan yang global menjadikan lulusan perguruan tinggi ini menjadi wirausaha muda yang tangguh.

Orientasi pengarahan mahasiswa agar menjadi wirausaha muda tidaklah mudah. Sistem pendidikan dan lingkungan kurang mampu memberikan motivasi  timbulnya minat mahasiswa untuk berwirausaha pada saat belajar maupun nanti setelah lulus. Hal tersebut terbukti dengan rendahnya jumlah peminat berbagai kompetisi wirausaha muda baik yang diadakan oleh Dirjen Dikti maupun instansi swasta seperti Bank Mandiri, Shell, Pertamina, dll., dibandingkan dengan jumlah keseluruhan mahasiswa. Sebagian besar mereka berharap setelah selesai mau bekerja sebagai karyawan swasta/professional maupun pegawai negeri sipil.

Apabila diurai lebih dalam bahwa system pendidikan di Indonesia dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) kurang mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi siswa untuk menjadi wirausaha. Dari Sekolah dasar, siswa dijejali berbagai ilmu yang hanya mengandalkan otak kiri untuk memperkuat kemampuan berpikir secara logis. Kondisi tersebut sama halnya dengan pendidikan kita mempersiapkan buruh-buruh atau tenaga kerja bagi orang asing. Perlu suatu terobosan yang dahsyat oleh intelektual pemegang kebijakan dalam bidang pendidikan di negeri ini untuk memulai mengembangkan system pendidikan yang mengarah pada mempersiapkan lahirnya wirausaha muda.

Perguruan tinggi sebagai “kawah candra dimuka (bahasa: jawa)” atau tempat menuntut ilmu bagi berjuta calon angkatan kerja intelektual memiliki peran yang strategis dalam penciptaan mahasiswa wirausaha. Berbagai program telah dilaksanakan oleh pemerintah baik melalui program mahasiswa wirausaha (PMW) maupun dengan program hibah lain yang memungkinkan mampu menstimulasi mahasiswa belajar berwirausaha.

Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, sebagai salah satu “kawah candra dimuka” bagi mahasiswa yang mau belajar memanfaatkan berbagai potensi sumber daya alam yang berlimpah di negeri Indonesia. Saat ini, kurikulum pendidikan di PS Agribisnis UMY mengarahkan pada penciptaan wirausaha muda yang mampu menciptakan pekerjaan bagi diri dan lingkungan dengan memanfaatkan SDA dengan bekal ketrampilan dan wawasan intelektual global. Selain telah melakukan perubahan kurikulum lama menjadi kurikulum berbasis kompetensi dan softskill, PS Agribisnis juga telah mengembangkan mata kulian khusus kewirausahaan yang didukung dengan laboratorium bisnis/unit bisnis sebagai praktek atau simulasi usaha bagi mahasiswa.

Kurikulum mata kuliah kewirausahaan yang dikembangkan oleh PS Agribisnis UMY, secara nyata telah mampu memberikan inspirasi dan motivasi mahasiswa dan lulusan untuk terjun kedunia usaha sebagai wirausaha. Berbagai bidang usaha yang telah digeluti oleh lulusan antara lain: usaha supplier sayuran ke supermarket di DIY-Jateng, supplier buah-buahan di Jateng, tambak udang, usaha transportasi angkutan darat di wonosobo dan Kalimantan barat, bidang TI, pengolahan makanan, dll.